PERILAKU GIZI SEIMBANG PADA REMAJA
Nama : Nurul Maulida
Nim : 1022201015
Prodi S1 Gizi Fakultas Kesehatan Universitas M.H Thamrin
Tugas Mata Kuliah Komputer Dasar
Dosen : Irwan Abdullah, S.Kom.,MM
Masalah Gizi Pada Remaja
Remaja adalah anak yang berusia 10-19 tahun. WHO mendefinisikan remaja sebagai suatu masa dimana individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukan tanda-tanda seksual sekunder (pubertas) sampai saat ia mencapai kematangan seksual. pada masa ini individu mengalami perkembangan psokologi dan pola identifikasi dari anak anak menjadi dewasa. selain itu, terjadi peralihan dari ketergantungan sosial dan ekonomi yang penuh kepada orang tua menuju keadaan yang relatif lebih mandiri.
Pada masa ini terjadi perubahan fisik dan psikis yang sangat signifikant perubahan fisik di tandai dengan pertumbuhan badan yang pesat dan matangnya organ reproduksi. laju pertumbuhan badan berbeda antara wanita dan pria. wanita mengalami percepatan lebih dulu di bandingkan pria. karena tubuh wanita dipersiapkan untuk reproduksi. sementara pria baru dapat menyusul dua tahun kemudian. pertumbuhan cepat ini juga idtandai dengan pertambahan pesat berat badan dan tinggi badan .
Ada tiga alasan mengapa remaja dikategorikan rentan tehadap masalah gizi. pertama, percepatan pertumbuhan dan perkembangan tubuh memerlukan energi lebih banyak. kedua, perubahan gaya hidup dan kebiasaan makan menuntut penyesuaian masukan energi dan zat gizi. ketiga, kehamilan, keikutsertaan dam olahraga, kecanduan alkohol dan obat obatan meningkatkan kebutuhan energi dan zat gizi.
Pentingnya gizi pada remaja
Kebutuhan gizi remaja relatif besar, karena masih mengalami pertumbuhan.
1.Energi
Kebutuhan energi remaja dipengaruhi oleh aktivitas, metabolisme basal dan peningkatan kebutuhan untuk menunjang percepatan tumbuh-kembangnya masa remaja. Metabolisme basal (MB) sangat berhubungan erat dengan jumlah massa tubuh tanpa lemak (lean body mass). Dengan aturan ini metabolisme basal pada remaja pria lebih tinggi daripada perempuan. Percepatan tumbuh pada remaja sangat rentan terhadap kekurangan energi dan nutrien. Kekurangan energi dan nutrien kronis di usia remaja dapat berdampak pada keterlambatan pubertas dan atau hambatan pertumbuhan.
2. Karbohidrat
Jumlah karbohidrat yang dianjurkan adalah 50% atau lebih dari energi total, serta tidak lebih dari 10-25% berasal dari karbohidrat sederhana seperti sukrosa atau fruktosa.2
3. Protein
Kebutuhan protein tertinggi pada remaja terjadi pada saat puncak percepatan tinggi (remaja putri 11-14 tahun, lelaki 15-18 tahun). Kekurangan asupan protein secara konsisten pada masa ini dapat berdampak pada berkurangnya pertumbuhan linear, keterlambatan maturasi seksual serta berkurangnya akumulasi massa tubuh tanpa lemak.
4. Lemak
Pedoman gizi seimbang menganjurkan konsumsi lemak tidak lebih dari 30% dari energi total dan tidak lebih dari 10% berasal dari lemak jenuh. Sumber utama lemak dan lemak jenuh adalah susu, daging (berlemak), keju, mentega/margarin, dan makanan lain (cake, es krim).
5. Mineral
Sejumlah mineral penting yang harus dipenuhi di usia remaja antara lain:
Kalsium. Kebutuhan kalsium pada masa remaja merupakan yang tertinggi karena remaja mengalami pertumbuhan skeletal yang dramatis. Angka kecukupan asupan kalsium yang dianjurkan untuk kelompok remaja adalah 1.300 mg per hari. Susu merupakan sumber kalsium terbaik, disusul keju, es krim, dan yogurt. Kini banyak makanan dan minuman yang difortifikasi dengan kalsium yang setara dengan kandungan kalsium pada susu (300mg per saji).
Gangguan Gizi pada Remaja
Saat remaja terjadi perubahan fisiologis yang bisa mempengaruhi kebutuhan gizi termasuk untuk pertumbuhan yang cepat, biasanya pertumbuhan cepat lebih banyak terlihat pada remaja laki-laki. Namun remaja kadang memilih makanan yang tidak tepat sehingga mempengaruhi asupan gizi yang masuk ke tubuhnya.
Berikut ini beberapa masalah gizi yang banyak menyerang kaum remaja, seperti dikutip dari BBCHealth, Senin (16/1/2012) yaitu:
gizi seimbang dijabarkan ke dalam 4 pilar
1. Kekurangan zat besi
Kondisi ini merupakan hal yang paling umum dijumpai. Pertumbuhan yang cepat ditambah dengan gaya hidup dan pilihan makanan yang buruk bisa mengakibatkan remaja mengalami anemia akibat kekurangan zat besi, terutama pada remaja putri ketika ia sudah mengalami menstruasi.
Sumber makanan utama yang mengandung zat besi adalah daging merah, sereal, buah kering, roti dan sayuran berdaun hijau. Sumber zat besi yang berasal dari non-daging membutuhkan asupan nutrisi lain untuk meningkatkan penyerapannya seperti makanan kaya vitamin C (jeruk, blackcurrant dan sayuran berdaun hijau), sedangkan zat tanin yang terkandung dalam teh bisa mengurangi penyerapan zat besi.
2. Kekurangan kalsium
Survei menemukan sekitar 25 persen remaja memiliki asupan kalsium lebih rendah dari yang direkomendasikan sehingga berdampak terhadap kesehatan tulangnya di masa depan, salah satunya adalah osteoporosis yang membuat tulang rapuh dan mudah patah.
Tulang akan terus tumbuh dan diperkuat sampai usia 30 tahun dan masa remaja adalah waktu yang sangat penting untuk perkembangan ini. Nutrisi yang diperlukan seperti vitamin D, kalsium dan fosfor.
Sumber kaya kalsium yang sebaiknya dikonsumsi adalah susu dan produk susu, misalnya segelas susu, 150 gram yogurt dan sepotong keju ukuran kecil. Jika tidak bisa mengonsumsi produk susu, maka konsumsilah susu kedelai yang sudah difortifikasi, atau jika takut dengan kandungan lemak pilihlah susu yang rendah lemak (low fat).
3. Kekurangan gizi akibat salah diet
Berbagai studi melaporkan kaum remaja terutama perempuan banyak yang tidak puas dengan berat badannya, sehingga melakukan diet dengan cara yang salah seperti melewatkan waktu makan, menghindari daging merah, tapi mengonsumsi makanan ringan dan bergula.
Hal ini bukanlah pilihan yang tepat dan sehat karena pada usia tersebut tubuh mengalami percepatan pertumbuhan yang menuntut adanya peningkatan nutrisi. Jika diet yang dilakukan salah maka tubuh akan mendapatkan nutrisi yang penting dalam jumlah kecil atau tidak sama sekali.
Sebaiknya konsumsilah makanan secara masuk akal, olahraga teratur, mengurangi makanan bergula dan banyak lemak untuk mengurangi kelebihan kalori sambil tetap mempertahankan nutrisi yang masuk. Selain itu masa-masa remaja merupakan waktu yang banyak menyebabkan perkembangan gangguan makan.
Konsumsi makanan beragam
Tujuan dari konsumsi makanan beragam adalah memastikan kita mendapatkan asupan gizi dari berbagai jenis pangan. Alasannya, tidak ada satu pun jenis makanan yang mengandung semua jenis zat gizi, kecuali ASI yang memang merupakan makanan utama untuk bayi usia 0 hingga 6 bulan. Setelah usia ini, bayi harus mendapatkan Makanan Pendamping ASI (MPASI) untuk memastikan ia tumbuh dan berkembang dengan baik.
Nah, pastikan Si Kecil mengonsumsi makanan beragam agar nutrisi diperlukan tubuh bisa terpenuhi.
Membiasakan perilaku hidup bersih
Membiasakan perilaku hidup bersih adalah pilar kedua dari prinsip gizi seimbang. Bukan hanya makanan yang harus bernutrisi, namun kebersihannya juga harus diperhatikan. Konsumsi makanan yang terkontaminasi akibat kebersihan yang buruk bisa mendatangkan penyakit lho Bunda.
Kontaminasi bakteri pada tubuh dan makanan bisa dihindari atau setidaknya dikurangi peluangnya dengan meningkatkan kebersihan diri. Beberapa kebiasaan hidup bersih antara lain cuci tangan dengan sabun sebelum kontak dengan makanan atau ASI, tutup makanan dengan tudung saji untuk meminimalkan vektor penyakit infeksi, menutup mulut dan hidung bila bersin/batuk, serta memakai alas kaki agar terhindar dari infeksi kecacingan.
Melakukan aktivitas fisik
Tidak hanya memperhatikan jenis dan jumlah zat gizi yang masuk ke dalam tubuh, aktivitas fisik juga diperlukan agar asupan dan pengeluaran kalori bisa seimbang. Ketidakseimbangan asupan gizi dan aktivitas fisik bisa menimbulkan masalah gizi – kekurangan atau kelebihan.
Mempertahankan dan memantau berat badan di kisaran normal
Pilar selanjutnya adalah mempertahankan dan memantau berat badan. Caranya dengan menggunakan indicator Indeks Massa Tubuh (BMI). Berat badan termasuk normal jika nilai BMI berkisar 18,5 – 25,0. Jurang dari 18,5 artinya masuk kategori berat badan kurang dan lebih di atas 25 artinya berat badan berlebih. Jika BMI berada di angka normal, usahakan untuk menjaganya di kisaran itu ya Bun.

Komentar
Posting Komentar